Senin, 09 Mei 2016

Basic Life Support


Selamat hari senin dan selamat menjalankan kembali aktifitas-aktifitas kita yang sempat terlena dengan dua hari libur sebelumnya. Lagi-lagi saya akan menambahkan wawasan bagi temen-temen yang mungkin sebagian belum tau atau bahkan sudah tau tetapi belum update dengan perkembangan yang terkini.

Saya akan membahas bagaimana cara penanganan kepada seluruh lapisan masyarakat dimana penanganan ini sebelumnya sudah berhasil di terapkan dibagian Eropa sebagai tindakan membantu perjalanan jalan nafas maupun bantuan hidup dasar terhadap korban-korban kecelakaan yang membutuhkan di saat-saat tenaga medis belum ada. Hal ini tentunya di harapkan bagi teman-teman yang membaca kelak (non-tenaga medis) dapat menerapkannya secara baik di lingkungan saat terjadi suatu hal yang tidak diinginkan dan jauh dari bantuan medis.

Kalau bicara mengenai Basic Life Support atau biasa di Indonesia di sebut dengan Bantuan Hidup Dasar di lingkup kedokteran bukan lagi merupakan hal yang baru atau asing. Pemberian BHD ini merupakan kompetensi yang harus dikuasai penuh oleh lulusan dokter (kompetensi 4). Maksud dari kompetensi 4 ini sendiri adalah lulusan dokter yang memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah di demonstrasikan keterampilan ini, dan pernah memiliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan keterampilan tersebut dalam konteks praktik dokter secara mandiri.



Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan tindakan pertolongan pertama yang dilakukan untuk memulihkan kembali seseorang yang mengalami henti nafas dan henti jantung.

Sesuai dengan rekomendasi American Heart Assosiation (AHA), terdapat perubahan guideline  secara signifikan pada tahun 2010. Perubahan ini mencakup algoritma ABC (Airway, Breathing, Circulation)  menjadi CAB (Circulation, Airway, Breathing), serta perubahan kompresi. Perubahan ini didasari penelitian yang menunjukkan kenaikan angka survival rates pada algoritma yang baru.


Algoritma Bantuan Hidup Dasar

1. Jika menemukan seseorang dalam keadaan tidak sadar, lakukan:
a. Perhatikan keadaan sekitar. Perhatikan dahulu keselamatan diri sendiri sebelum menolong orang lain.
b. Periksa apakah penderita tersebut tidak responsif, lakukan dengan mengguncangkan tubuhnya atau panggil dengan nama sapaan.
c. Mintalah bantuan dengan berteriak ke sekitar (meminta untuk segera menelpon ambulans/RS, atau memanggil perawat/tenaga medis lainnya jika penderita merupakan pasien rumah sakit).

2. Jika penderita tidak responsif, mulailah CAB, yaitu:
a. Compression: penolong memeriksa nadi penderita dengan cara meraba(mempalpasi) pulsasi Arteri Carotis Komunis. Palpasi atau rabaan dilakukan selama setidaknya 5 detik, namun tidak diperbolehkan lebih dari 10 detik.

Jika penderita memiliki pulsasi, pertolongan pertama ditujukan untuk membebaskan jalan nafasnya(Airway) dengan pemberian bantuan nafas yang adekuat (1 nafas setiap 5-6detik), periksa kembali secara berkala setiap 2 menit.
Jika penderita tidak memiliki sirkulasi: Memulai kompresi dada dengan segera. Melakukan dengan 30 kompresi kecepatan minimal 100x/1'. Kedalaman kompresi sedikitnya 5cm pada pasien dewasa (kompresi pada anak dan bayi sekitar 1/3 kedalaman dada), berikan waktu pengembangan dinding dada (recoil) secara lengkap diantara 2 kompresi.
Mengulangi terus kompresi dan nafas bantuan hingga 5 kali(1siklus)



b. Airway
Setelah melakukan kompresi jantung, pertolongan dilanjutkan dengan mengevaluasi kelancaran jalan nafas. Ini meliputi pemeriksaan ada apa tidaknya sumbatan pada jalan nafas yang dapat disebabkan oleh benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur rahang bawah atau rahang atas, fraktur batang tenggorok. Usaha untuk membebaskan airway harus melindungi tulang leher, yang pada dalam hal ini dilakukan chin lift atau jaw thrust.



c. Breathing:
Airway yang baik tidak menjamin ventilasi yang bai. Pertukaran gas yang terjadi pada saat bernafas mutlak untuk pertukaran oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuh. Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding dada, dan diafragma.
Jika penderita bernafas: Jika optimal dengan frekuensi normal, tempatkan penderita pada posisi pemulihan.
Jika pernafasan tidak optimal dan frekuensi lebih cepat  atau lebih lambat dari normal, lakukan tiupan nafas dengan 1 tiupan setiap 5 detik. Periksa kembali secara berkala setiap 2 menit.
Jika penderita tidak bernafas: Lakukan pernafasan dari mulut kr mulut (Mouth to mouth), dengan tiupan nafas perlahan. Lakukan 2 detik per tiupan nafas. Pemberian nafas bantuan juga bisa dilakukan dengan bantuan alat sungkup wajah (Face masck/ambu bag).
Amati pergerakan dada ketika nafas bantuan diberikan.

Periksa ulang nadi pulsasi Arteri Carotis Komunis setiap 5 siklus.

Jika penderita masih terus mengalami henti nafas dan henti jantung, lakukan terus tindakan diatas minimal selama 20-30 menit dan evaluasi terus tanda-tanda kehidupan penderita, dan hentikan bantuan apabila:
 1. Anda merasa lelah
 2. Bantuan dari petugas telah datang.

Recovery Position 

Adalah penempatan posisi korban, setelah resusitasi dilakukan. Dalam posisi recovery, jalan nafas diharapkan dapat tetap bebas (Secure Airway) dan mencegah aspirasi jika terjadi muntah. Posisi recovery dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

0 komentar:

Posting Komentar